SYUKUR.... AKHIRNYA KEGIATAN LDKS SMA JAKARTARAYA BERHASL DISELENGGARAKAN BERKAT KERJA SAMA ANTAR MTs/MA YUSUFIYAH LUBANGBUAYA JAKARTA TIMUR. DISELENGGARAKAN DI GADOG -BOGOR JAWA BARAT (29,30,31 DESEMBER 2008 )
Biografi Stanislavski dilahirkan dengan nama Konstantin Sergeievich Alexeyev di Moskwa dalam sebuah keluarga kaya. Pertama kali ia tampil dalam seni peran pada usia 7 tahun. Ia mengambil nama panggung Stanislavski pada awal kariernya (kemungkinan untuk menjaga reputasi keluarganya.) Dalam beberapa terjemahan, namanya ditulis "Konstantin Stanislavski".
Pada 1888, Stanislavski mendirikan Perhimpunan Seni dan Sastra di Teater Maly, dan di sana ia memperoleh pengalaman dalam estetika dan seni panggung.
Pada 1897 ia ikut mendirikan Teater Seni Moskwa (MKhAT) bersama Vladimir Nemirovich-Danchenko. Salah satu produksi pertama kelompok ini adalah Burung Camar karya Anton Chekhov. Di MKhAT inilah Stanislavski mulai mengembangkan, berdasarkan tradisi realis dari Aleksandr Pushkin, "Sistem"-nya yang termasyhur (seringkali disebut "Metode", meskipun sebutan ini tidak akurat; metode seni peran dikembangkan dari sini). "Sistem" ini belakangan diadaptasi oleh Lee Strasberg, Stella Adler, Robert Lewis, Sanford Meisner, dan banyak tokoh lainnya di Amerika Serikat. Sistem Stanislavski dipusatkan pada pengembangan watak dan dunia panggung yang realistis. Para aktor diajarkan untuk memanfaatkan "Memori Afektif" agar dapat secara wajar menggambarkan emosi seorang watak. Untuk melakukan hal itu, para aktor dituntut memikirkan sebuah momen dalma hidup mereka sendiri ketika mereka merasakan emosi yang diinginkan dan kemudian memainkan kembali emosi tersebut di dalam peran guna mencapai penampilan yang lebih sungguh-sungguh.
Metode Stanislavski mengembangkan sebuah pendekatan sistematis terhadap pelatihan para aktor untuk mengembangkan dari dalam dirinya ke luar.
Stanislavski mengusulkan agar para aktor mempelajari dan mengalami emosi-emosi dan perasaan-perasaan subyektif dan mewujudkannya kepada para penonton melalui sarana-sarana fisik dan vokal, yang juga dikenal sebagai Bahasa teater.
Stanislavski bertahan baik Revolusi Rusia tahun 1905 dan Revolusi Rusia tahun 1917, dengan Lenin yang tampaknya ikut campur untuk melindunginya. Pada 1918, Stanislavski mendirikan Studio Pertama sebagai sekolah untuk aktor muda dan menulis sejumlah karya. buku-buku yang ditulisnya dan terdapat dalam bahasa Inggris antara lain adalah: An Actor Prepares (diterjemahkan oleh Asrul Sani dengan judul "Persiapan Seorang Aktor"), Building a Character, Creating a Role, dan biografi My Life in Art.
[sunting] Perbedaan-perbedaan antara sistem Stanislavski dan Metode Lee Strasberg Sistem Stanislavski dapat pula disebut Metode Aksi Fisik yang berbeda dengan Metode Lee Strasberg yang sangat dipengaruhi oleh "Memori Afektif". Stanislavski mempunyai berbagai murid pada setiap tahap penemuan dan eksperimentasinya dengan Metode Universal seni peran. Salah seorang muridnya, Richard Boleslavsky mendirikan Laboratorium Teater Amerika pada 1925. Laboratorium ini mempunyai pengaruh yang sangat hebat terhadap seni peran Amerika, Lee Strasberg sebagai kepalanya. Boleslavsky terlibat dalam tahapan Stanislavski ketika ia bereksperimen dengan Memori Afektif. Teori Stanislavski belakangan berkembang hingga mengandalkan Aksi Fisik yang membangkitkan perasaan dan emosi. Memori Afektif diterapkan dalam Sistem Stanislavski tetapi tidak begitu banyak dalam Metode Lee Strasberg.
Stella Adler, satu-satunya orang Amerika yang belajar pada Stanislavski, diajari Metode Aksi Fisik di Paris selama 5 minggu pada 1934. Dengan pengetahuan yang baru ini ia datang kepada Strasberg dan memperkenalkan kepadanya Sistem/Metode Aksi Fisik yang baru. Lee Strasberg memahami perbedaan-perbedaannya tetapi menolak Metode Aksi Fisik. Ia percaya bahwa seni peran adalah mengenang kembail emosi. Karena itu Adler berkata tentang Strasberg "Ia sama sekali keliru."
Stanislavski meninggal pada 1938 sehingga antara 1934 ketika ia bertemud engan Stella Adler dan 1938 ia masih menemukan dan memperkeuat hal-hal baru di dalam Sistemnya.
Penting diingat bahwa Stanislavski selalu menganggap sistemnya seolah-olah sebuah daftar isi dari sebuah buku yang besar yang membahas segala aspek dari seni peran. Karyanya yang terakhir, kini dikenal sebagai Metode Aksi Fisik, sama sekali bukanlah penolakan terhadap minatnya yang lebih awal terhadap memori perasaan dan memori afektif. Ia sama sekali tidak pernah menolak pemahaman memori emosi; ia hanya menemukan cara-cara lain untuk mengakses emosi, antara lain keyakinan mutlak akan keadaan-keadaan tertentu; pelatihan imajinasi, dan penggunaan aksi fisik.
Ini sebetulnya tidak benar. Apa yang ditemukan Stanislavski adalah bahwa kebanyakan - memori perasaan dan memori afektif, ketimbang membebaskan si aktor, terlalu sering menimbulkan hasil-hasil yang negatif. Hal ini membuat para aktor tegang, lelah, dan histeris, dan seringkali menyebabkan ia secara emosional membeku. Dalam tulisan-tulisannya di kemudian hari ia percaya bahwa setiap upaya untuk membangkitkan perasaan harus dihindari.
[sunting] Warisan Jalan berliku yang panjang yang dimulai dengan sistem Stanislavski membaw kepada aktor dan aktris seperti Jack Nicholson, Marilyn Monroe, James Dean, Marlon Brando, Montgomery Clift, Harvey Keitel, Steve McQueen, Paul Newman, Warren Beatty, Geraldine Page, Dustin Hoffman, Robert De Niro, Al Pacino, Jane Fonda, dan masih banyak lagi. Yang lebih belakangan adalah Benicio Del Toro, Mark Ruffalo, Johnny Depp, dan Sean Penn.
Charlie Chaplin berkata, "Buku Stanislavki Persiapan Seorang Aktor, menolong semua orang untuk menjangkau seni dramatis yang besar. Buku ini mengajarkan apa yang dibutuhkan seorang aktor untuk membangkitkan ilham yang ia butuhkan untuk mengungkapkan emosi-emosi yang mendalam."
Sir John Gielgud berkata, "Sutradara ini menemukan waktu untuk menjelaskan seribu kali apa yang selalu mengganggu para aktor dan mempesona para murid." Gielgud juga pernah berkata, "Buku Stanislavski yang kini terkenal adalah sumbangan kepada Teater dan siswa-sisanya di seluruh dunia."
Tujuan Stanislavski adalah menemukan sebuah Metode/Sistem Universal yang dapat menolong para aktor. Sebagai kesimpulan dari semuanya, Stanislavski berkata tentang Sistemnya, "Ciptakanlah metode anda sendiri. Jangan bergantung membabi buta pada metode saya. Ciptakanlah sesuatu yang menolong bagi anda! Tetapi saya mohon, patahkanlah terus tradisi."
Judul: BOR : Esai-esai Budaya Pengarang: Putu Wijaya Penerbit: Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, Indonesia. Tebal: xi+349 halaman Pengulas: MARSLI N.O
“KESENIAN sudah menempati posisi mati di zaman Orde Baru....” demikian Putu Wjaya memulai tulisannya berjudul “Reformasi Seni” dalam buku yang dibahagikan kepada tiga bahagian ini.
Tulisan di atas yang mengawali bahagian pertama berjudul “Reformasi” ini memang agak sinis dan malah tegas nadanya. Melalui tulisan ini Putu Wijaya memperihalkan betapa lantaran politik dan ekonomi lebih dimuliakan oleh pemerintah Indonesia (di zaman orde baru) menjadikan kesenian semakin dilihat sebagai sesuatu yang tidak penting atau tidak memberikan apa-apa sumbangan kepada masyarakat.
Sebanyak 11 tulisan Putu Wijaya di bahagian ini memang mengkhususkan persoalannya mengenai reformasi yang melibatkan pelbagai bidang seni, budaya, sastrawan dan seniman.
Mengenai reformasi budaya, Putu melihat reformasi atau perubahannya perlu dihubungkaitkan dengan perubahan atau reformasi politik dan ekonomi. Hanya dengan melakukan reformasi budaya, kestabilan ekonomi dan politik lebih terjamin. Menariknya di sini, Putu menekankan betapa reformasi budaya yang dimaksudkannya ialah reformasi berkaitan dengan iman, kewarasan dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Di bidang sastera, Putu melihat reformasi di bidang ini perlu bermula dari kalangan seniman sendiri sebagai pelakunya. Dengan tegas, Putu melontarkan tanya: “Bagaimana seni, sastra dan sebagainya akan dapat memberikan kontribusi pada pencerdasan bangsa dalam perjalanan sejarah menuju Indonesia baru, kalau senimannya sendiri kropos?”
Soalan ini malah dijawab langsung oleh Putu Wijaya. Bagi Putu, itu semua akan dapat dicapai dengan bekerja serta cucur keringat dan bukan sebaliknya: berteriak-teriak, mengemis atau menuding ke orang lain.
Bahagian kedua dengan judul “Opini” memuatkan 16 tulisan Putu yang secara khusus memaparkan sikap kritis Putu Wijaya berhubung soal-soal politik dan sosial di negeranya. Malah pandangan Putu mengenai pemimpin menarik untuk sama direnungkan.
Dalam tulisan beliau berjudul “Mencari Seorang Pemimpin” Putu Wijaya meperkatakan mengenai kewajaran antara seorang dari kalangan sipil atau awam menjadi pemimpin. Persoalan ini ditimbulkan Putu kerana di Indonesia kebanyakan pemimpinnya adalah dari kalangan tentera
Bagi Putu, seorang pemimpin adalah tubuh dari jiwa rakyatnya dan hanya yang benar-benar menjiwai rakyatnya yang layak digelar pemimpin. Walau dari institusi manapun datangnya, pada hemat Putu Wijaya lagi, begitu lahir dalam kepimpinan nasional, seorang pemimpin haruslah sipil dan mengamalkan pemerintahan sipil.
Bahagian ketiga dengan judul “Gagasan” memuatkan 13 tulisan yang memaparkan sikap serta pandangan Putu Wijaya secara khusus mengenai sastera, filem, teater dan malah turut memuatkan pembicaraan beliau terhadap beberapa nama tokoh seniman atau sasterawan lain.
Melihat filem Indonesia di era globalisasi, Putu menyatakan perlunya para pemikir dan tenaga kerja yang profesional. Malah Putu meyakini, betapa pun dianggap belum begitu pasti, namun masa depan filem Indonesia di era ini tetap cerah.
Mengenai cerita untuk kanak-kanak, Putu menyebutkan dongeng karya Anderson sebagai model yang dianggapnya sempurna. Bagi Putu, dibaca oleh siapa pun karya-karya Andrson itu tetap bermakna dan dapat dianggap sebagai semacam esei moral.
Namun begitu, Putu turut mengingatkan betaspa disamping berperanan sebagai pembawa pesan moral, cerita untuk kanak-kanak mestilah juga bermagnet sebagai hiburan.
Dalam tulisannya berjudul “Teater Asrul Sani” Putu mengakui agak sulit untuk menyatakan dari sisi mana kemampuan Asrul Sani yang paling ketara atau hebat. Puncanya, bagi Putu Asrul Sani memiliki banyak “muka” dalam kesenian dan diakuinya semuanya tajam dan hebat.
Dalam tulisan ini, Putu melihat betapa besarnya sumbangan yang diberikan Asrul Sani terhadap pembinaan dan perkembangan teater Indonesia melalui Akademi Teater Nasional Indonesia yang didirikannya . Malah di bahagian lain tulisannya ini Putu menganggap Asrul sebagai seorang “dewa” dalam perkembangan teater moden Indonesia.
Putu Wijaya turut memberikan reaksi terhadap kumpulan sajak Taufiq Ismail berjudul “Malu (Aku) Menjadi Orang Indonesia”. Dalam tulisannya berjudul “Saya Tidak Malu Jadi Orang Indonesia” yang dibacakan pada peluncuran kumpulan sajak Taufik Ismail ini Putu melihata betapa puisi-puisi Taufik Ismail adalah suatu paket enerji yang amat berkesan apabila dipertemukan dalam sebuah peristiwa tontonan. Malah Putu melanjutkan betapa pyuisi baru terjadi kalau diperdengarkan.
Sebagai kesimpulan, melalui buku ini dapat ditelusuri gagasan-gagasan Putu Wijaya mengenai pelbagai persoalan sosial, budaya dan seni. Walaupun boleh dikatakan setiap tulisannya di dalam buku yang dibahagikan kepada tiga bahagian ini menghadirkan perenungan yang mendalam, namun kerana diperkatakan dengan bahasa yang langsung maka ianya menjadi lebih mudah difahami.
Sumber: Sastera & Budaya, Berita Harian 30 Disember, 2004
Pokoknya SMA JAKARTA RAYA SO.. PASTI ! SEKOLAHANNYA SISWA KREATIF DAN MANDIRI.
lIHAT AJA KEGIATANNYA BANYAK BANGET DAN PALING KREATIF DIBANDING SEKOLAH LAIN.
ADA TEATER,KEGIATAN SEPAK BOLA,CIPTA LAGU,lAB.BAHASA INGGRIS.LAB.SASTRA,FILM INDEPENDENT,OBSERVASI ALAM,BAKTI SOSIAL DLL.
3 komentar:
SYUKUR....
AKHIRNYA KEGIATAN LDKS SMA JAKARTARAYA BERHASL DISELENGGARAKAN BERKAT KERJA SAMA ANTAR MTs/MA YUSUFIYAH LUBANGBUAYA JAKARTA TIMUR. DISELENGGARAKAN DI GADOG -BOGOR JAWA BARAT (29,30,31 DESEMBER 2008 )
Biografi
Stanislavski dilahirkan dengan nama Konstantin Sergeievich Alexeyev di Moskwa dalam sebuah keluarga kaya. Pertama kali ia tampil dalam seni peran pada usia 7 tahun. Ia mengambil nama panggung Stanislavski pada awal kariernya (kemungkinan untuk menjaga reputasi keluarganya.) Dalam beberapa terjemahan, namanya ditulis "Konstantin Stanislavski".
Pada 1888, Stanislavski mendirikan Perhimpunan Seni dan Sastra di Teater Maly, dan di sana ia memperoleh pengalaman dalam estetika dan seni panggung.
Pada 1897 ia ikut mendirikan Teater Seni Moskwa (MKhAT) bersama Vladimir Nemirovich-Danchenko. Salah satu produksi pertama kelompok ini adalah Burung Camar karya Anton Chekhov. Di MKhAT inilah Stanislavski mulai mengembangkan, berdasarkan tradisi realis dari Aleksandr Pushkin, "Sistem"-nya yang termasyhur (seringkali disebut "Metode", meskipun sebutan ini tidak akurat; metode seni peran dikembangkan dari sini). "Sistem" ini belakangan diadaptasi oleh Lee Strasberg, Stella Adler, Robert Lewis, Sanford Meisner, dan banyak tokoh lainnya di Amerika Serikat. Sistem Stanislavski dipusatkan pada pengembangan watak dan dunia panggung yang realistis. Para aktor diajarkan untuk memanfaatkan "Memori Afektif" agar dapat secara wajar menggambarkan emosi seorang watak. Untuk melakukan hal itu, para aktor dituntut memikirkan sebuah momen dalma hidup mereka sendiri ketika mereka merasakan emosi yang diinginkan dan kemudian memainkan kembali emosi tersebut di dalam peran guna mencapai penampilan yang lebih sungguh-sungguh.
Metode Stanislavski mengembangkan sebuah pendekatan sistematis terhadap pelatihan para aktor untuk mengembangkan dari dalam dirinya ke luar.
Stanislavski mengusulkan agar para aktor mempelajari dan mengalami emosi-emosi dan perasaan-perasaan subyektif dan mewujudkannya kepada para penonton melalui sarana-sarana fisik dan vokal, yang juga dikenal sebagai Bahasa teater.
Stanislavski bertahan baik Revolusi Rusia tahun 1905 dan Revolusi Rusia tahun 1917, dengan Lenin yang tampaknya ikut campur untuk melindunginya. Pada 1918, Stanislavski mendirikan Studio Pertama sebagai sekolah untuk aktor muda dan menulis sejumlah karya. buku-buku yang ditulisnya dan terdapat dalam bahasa Inggris antara lain adalah: An Actor Prepares (diterjemahkan oleh Asrul Sani dengan judul "Persiapan Seorang Aktor"), Building a Character, Creating a Role, dan biografi My Life in Art.
[sunting] Perbedaan-perbedaan antara sistem Stanislavski dan Metode Lee Strasberg
Sistem Stanislavski dapat pula disebut Metode Aksi Fisik yang berbeda dengan Metode Lee Strasberg yang sangat dipengaruhi oleh "Memori Afektif". Stanislavski mempunyai berbagai murid pada setiap tahap penemuan dan eksperimentasinya dengan Metode Universal seni peran. Salah seorang muridnya, Richard Boleslavsky mendirikan Laboratorium Teater Amerika pada 1925. Laboratorium ini mempunyai pengaruh yang sangat hebat terhadap seni peran Amerika, Lee Strasberg sebagai kepalanya. Boleslavsky terlibat dalam tahapan Stanislavski ketika ia bereksperimen dengan Memori Afektif. Teori Stanislavski belakangan berkembang hingga mengandalkan Aksi Fisik yang membangkitkan perasaan dan emosi. Memori Afektif diterapkan dalam Sistem Stanislavski tetapi tidak begitu banyak dalam Metode Lee Strasberg.
Stella Adler, satu-satunya orang Amerika yang belajar pada Stanislavski, diajari Metode Aksi Fisik di Paris selama 5 minggu pada 1934. Dengan pengetahuan yang baru ini ia datang kepada Strasberg dan memperkenalkan kepadanya Sistem/Metode Aksi Fisik yang baru. Lee Strasberg memahami perbedaan-perbedaannya tetapi menolak Metode Aksi Fisik. Ia percaya bahwa seni peran adalah mengenang kembail emosi. Karena itu Adler berkata tentang Strasberg "Ia sama sekali keliru."
Stanislavski meninggal pada 1938 sehingga antara 1934 ketika ia bertemud engan Stella Adler dan 1938 ia masih menemukan dan memperkeuat hal-hal baru di dalam Sistemnya.
Penting diingat bahwa Stanislavski selalu menganggap sistemnya seolah-olah sebuah daftar isi dari sebuah buku yang besar yang membahas segala aspek dari seni peran. Karyanya yang terakhir, kini dikenal sebagai Metode Aksi Fisik, sama sekali bukanlah penolakan terhadap minatnya yang lebih awal terhadap memori perasaan dan memori afektif. Ia sama sekali tidak pernah menolak pemahaman memori emosi; ia hanya menemukan cara-cara lain untuk mengakses emosi, antara lain keyakinan mutlak akan keadaan-keadaan tertentu; pelatihan imajinasi, dan penggunaan aksi fisik.
Ini sebetulnya tidak benar. Apa yang ditemukan Stanislavski adalah bahwa kebanyakan - memori perasaan dan memori afektif, ketimbang membebaskan si aktor, terlalu sering menimbulkan hasil-hasil yang negatif. Hal ini membuat para aktor tegang, lelah, dan histeris, dan seringkali menyebabkan ia secara emosional membeku. Dalam tulisan-tulisannya di kemudian hari ia percaya bahwa setiap upaya untuk membangkitkan perasaan harus dihindari.
[sunting] Warisan
Jalan berliku yang panjang yang dimulai dengan sistem Stanislavski membaw kepada aktor dan aktris seperti Jack Nicholson, Marilyn Monroe, James Dean, Marlon Brando, Montgomery Clift, Harvey Keitel, Steve McQueen, Paul Newman, Warren Beatty, Geraldine Page, Dustin Hoffman, Robert De Niro, Al Pacino, Jane Fonda, dan masih banyak lagi. Yang lebih belakangan adalah Benicio Del Toro, Mark Ruffalo, Johnny Depp, dan Sean Penn.
Charlie Chaplin berkata, "Buku Stanislavki Persiapan Seorang Aktor, menolong semua orang untuk menjangkau seni dramatis yang besar. Buku ini mengajarkan apa yang dibutuhkan seorang aktor untuk membangkitkan ilham yang ia butuhkan untuk mengungkapkan emosi-emosi yang mendalam."
Sir John Gielgud berkata, "Sutradara ini menemukan waktu untuk menjelaskan seribu kali apa yang selalu mengganggu para aktor dan mempesona para murid." Gielgud juga pernah berkata, "Buku Stanislavski yang kini terkenal adalah sumbangan kepada Teater dan siswa-sisanya di seluruh dunia."
Tujuan Stanislavski adalah menemukan sebuah Metode/Sistem Universal yang dapat menolong para aktor. Sebagai kesimpulan dari semuanya, Stanislavski berkata tentang Sistemnya, "Ciptakanlah metode anda sendiri. Jangan bergantung membabi buta pada metode saya. Ciptakanlah sesuatu yang menolong bagi anda! Tetapi saya mohon, patahkanlah terus tradisi."
Ulasan Buku:
MENDEKATI PEMIKIRAN PUTU WIJAYA
Judul: BOR : Esai-esai Budaya
Pengarang: Putu Wijaya
Penerbit: Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, Indonesia.
Tebal: xi+349 halaman
Pengulas: MARSLI N.O
“KESENIAN sudah menempati posisi mati di zaman Orde Baru....” demikian Putu Wjaya memulai tulisannya berjudul “Reformasi Seni” dalam buku yang dibahagikan kepada tiga bahagian ini.
Tulisan di atas yang mengawali bahagian pertama berjudul “Reformasi” ini memang agak sinis dan malah tegas nadanya. Melalui tulisan ini Putu Wijaya memperihalkan betapa lantaran politik dan ekonomi lebih dimuliakan oleh pemerintah Indonesia (di zaman orde baru) menjadikan kesenian semakin dilihat sebagai sesuatu yang tidak penting atau tidak memberikan apa-apa sumbangan kepada masyarakat.
Sebanyak 11 tulisan Putu Wijaya di bahagian ini memang mengkhususkan persoalannya mengenai reformasi yang melibatkan pelbagai bidang seni, budaya, sastrawan dan seniman.
Mengenai reformasi budaya, Putu melihat reformasi atau perubahannya perlu dihubungkaitkan dengan perubahan atau reformasi politik dan ekonomi. Hanya dengan melakukan reformasi budaya, kestabilan ekonomi dan politik lebih terjamin. Menariknya di sini, Putu menekankan betapa reformasi budaya yang dimaksudkannya ialah reformasi berkaitan dengan iman, kewarasan dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Di bidang sastera, Putu melihat reformasi di bidang ini perlu bermula dari kalangan seniman sendiri sebagai pelakunya. Dengan tegas, Putu melontarkan tanya: “Bagaimana seni, sastra dan sebagainya akan dapat memberikan kontribusi pada pencerdasan bangsa dalam perjalanan sejarah menuju Indonesia baru, kalau senimannya sendiri kropos?”
Soalan ini malah dijawab langsung oleh Putu Wijaya. Bagi Putu, itu semua akan dapat dicapai dengan bekerja serta cucur keringat dan bukan sebaliknya: berteriak-teriak, mengemis atau menuding ke orang lain.
Bahagian kedua dengan judul “Opini” memuatkan 16 tulisan Putu yang secara khusus memaparkan sikap kritis Putu Wijaya berhubung soal-soal politik dan sosial di negeranya. Malah pandangan Putu mengenai pemimpin menarik untuk sama direnungkan.
Dalam tulisan beliau berjudul “Mencari Seorang Pemimpin” Putu Wijaya meperkatakan mengenai kewajaran antara seorang dari kalangan sipil atau awam menjadi pemimpin. Persoalan ini ditimbulkan Putu kerana di Indonesia kebanyakan pemimpinnya adalah dari kalangan tentera
Bagi Putu, seorang pemimpin adalah tubuh dari jiwa rakyatnya dan hanya yang benar-benar menjiwai rakyatnya yang layak digelar pemimpin. Walau dari institusi manapun datangnya, pada hemat Putu Wijaya lagi, begitu lahir dalam kepimpinan nasional, seorang pemimpin haruslah sipil dan mengamalkan pemerintahan sipil.
Bahagian ketiga dengan judul “Gagasan” memuatkan 13 tulisan yang memaparkan sikap serta pandangan Putu Wijaya secara khusus mengenai sastera, filem, teater dan malah turut memuatkan pembicaraan beliau terhadap beberapa nama tokoh seniman atau sasterawan lain.
Melihat filem Indonesia di era globalisasi, Putu menyatakan perlunya para pemikir dan tenaga kerja yang profesional. Malah Putu meyakini, betapa pun dianggap belum begitu pasti, namun masa depan filem Indonesia di era ini tetap cerah.
Mengenai cerita untuk kanak-kanak, Putu menyebutkan dongeng karya Anderson sebagai model yang dianggapnya sempurna. Bagi Putu, dibaca oleh siapa pun karya-karya Andrson itu tetap bermakna dan dapat dianggap sebagai semacam esei moral.
Namun begitu, Putu turut mengingatkan betaspa disamping berperanan sebagai pembawa pesan moral, cerita untuk kanak-kanak mestilah juga bermagnet sebagai hiburan.
Dalam tulisannya berjudul “Teater Asrul Sani” Putu mengakui agak sulit untuk menyatakan dari sisi mana kemampuan Asrul Sani yang paling ketara atau hebat. Puncanya, bagi Putu Asrul Sani memiliki banyak “muka” dalam kesenian dan diakuinya semuanya tajam dan hebat.
Dalam tulisan ini, Putu melihat betapa besarnya sumbangan yang diberikan Asrul Sani terhadap pembinaan dan perkembangan teater Indonesia melalui Akademi Teater Nasional Indonesia yang didirikannya . Malah di bahagian lain tulisannya ini Putu menganggap Asrul sebagai seorang “dewa” dalam perkembangan teater moden Indonesia.
Putu Wijaya turut memberikan reaksi terhadap kumpulan sajak Taufiq Ismail berjudul “Malu (Aku) Menjadi Orang Indonesia”. Dalam tulisannya berjudul “Saya Tidak Malu Jadi Orang Indonesia” yang dibacakan pada peluncuran kumpulan sajak Taufik Ismail ini Putu melihata betapa puisi-puisi Taufik Ismail adalah suatu paket enerji yang amat berkesan apabila dipertemukan dalam sebuah peristiwa tontonan. Malah Putu melanjutkan betapa pyuisi baru terjadi kalau diperdengarkan.
Sebagai kesimpulan, melalui buku ini dapat ditelusuri gagasan-gagasan Putu Wijaya mengenai pelbagai persoalan sosial, budaya dan seni. Walaupun boleh dikatakan setiap tulisannya di dalam buku yang dibahagikan kepada tiga bahagian ini menghadirkan perenungan yang mendalam, namun kerana diperkatakan dengan bahasa yang langsung maka ianya menjadi lebih mudah difahami.
Sumber: Sastera & Budaya, Berita Harian 30 Disember, 2004
KEMBALI
Posting Komentar